Saat ini orang tua sangat merasakan betapa pentingnya mendidik anak melalui lembaga-lembaga pendidikan yang ada. Bisa dilihat begitu maraknya lembaga-lembaga pendidikan untuk anak-anak bermunculan. Berlomba lembaga-lembaga pendidikan itu menawarkan pelayanan pendidikan yang terbaik untuk anak. Biaya- yang biasanya tidak murah- dari yang terjangkau sampai selangit dibebankan perbulannya. Jenis-jenis kursus seperti untuk membuat anak pintar/cepat berhitung, cakap berbahasa asing, hingga bela diri, berenang, bermain musik dan menari banyak ditawarkan. Dengan  tawaran pendidikan yang penuh iming-iming, akan membuat otak anak menjadi  cerdas, hampir semua orangtua seakan tak mau kalah mengikut sertakan anaknya ke dalam kursus-kursus. Bahkan ada pula orangtua yang memilih lebih dari satu atau dua kursus untuk anaknya!

Melihat kondisi seperti itu dan jika menilik beberapa teori pendidikan yang patut bagi anak, tidakkah kita merasa miris? Apakah ini gejala adanya orientasi pada kemampuan intelektual anak yang terlalu dipaksakan karena akibat ketidaktahuan orangtua? Kursus-kursus yang diikuti anak-anak itu merupakan keinginan si anak atau karena idealis orangtuanya?

Anak-anak Cerdas Yang diInstankan

Pendidikan yang seharusnya belum patut diberikan pada anak tidak disadari oleh orangtua adalah suatu bentuk tekanan kognitif. Orangtua saling berkompetisi dalam mendidik anak-anaknya agar menjadi seperti keinginannya. Rangsangan intelektual yang berlebihan tidak disadari akan membuat anak-anak menjadi tertekan. Tekanan terus menerus tanpa disadari diberikan orangtua. Berangkat sekolah pagi sampai di rumah sudah sore. Di rumah pun masih belajar atau les. Terkadang harus kursus ini dan itu.

Tiap-tiap orangtua pasti menginginkan pendidikan terbaik bagi buah hatinya. Menurut Psikolog Elly Risman, S.Psi, dari Yayasan Kita dan  Buah Hati, nyatanya rasa sayangnya itu menjadi target-target materialistis. Anak-anak yang dijejali dengan berbagai tekanan kognitif menjadi cepat mekar sebelum waktunya. Pendidikan dilaksanakan dengan cara memaksa otak kiri anak. Kalau sudah begitu anak-anak akan menjadi cepat matang mungkin bisa menjadi cepat busuk!

Pendidikan yang ada sekarang ini banyak yang tidak berorientasi pada kebutuhan anak. Yang ada saat ini lebih cenderung memekarkan aspek kognitif dan mengabaikan faktor emosi. Intelektualitas anak mungkin bisa dipaksakan untuk dipercepat. Namun factor emosi memiliki waktu sendiri yang tidak dapat digegas. Anak-anak boleh unggul dalam kecerdasan kognitifnya tapi kecerdasan emosional mereka belum tentu dapat mengiringi. Jika anak-anak dirampas masa kanak-kanaknya, bisa jadi ketika dewasa menjadi orang dewasa yang belum dewasa!

Perkembangan Anak

Sejak proses terjadinya konsepsi sampai meninggal, anak akan mengalami perubahan karena tumbuh dan berkembang. Pertumbuhan ini bersifat jasmaniah maupaun kejiwaan. Jadi sepanjang kehidupan manusia terjadi proses pertumbuhan terus menerus. Proses perubahan itu terjadi secara teratur dan terarah yaitu ke arah kemajuan bukan kemunduran. Setiap tahap kemajuan pertumbuhan ditandai dengan meningkatnya kemampuan dan cara baru yang dimiliki. Tiap anak memiliki kepribadian yang unik. Tiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda. Dan tiap tahap pertumbuhan anak memiliki ciri tertentu.

Definisi pendidikan menurut Kamus Besar  Bahasa Indonesia adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Namun dalam hal ini peran orangtua lebih penting dalam memahami tumbuh kembang anak. Rancangan konsep pendidikan yang patut untuk anak harus dipahami. Diawali dengan penentuan tujuan. Yang benar bukan menciptakan anak jadi ilmuwan atau sarjana tapi jadi Muslim/ Muslimah yang taat.  Selanjutnya perlu dibuat rencana pengasuhannya. Orangtua ingin anak belajar apa. Kalau anak sudah bisa diajak berkomunikasi, ditanya ingin belajar apa. Orangtua harus tahu kapan anak belajar mengenal huruf, mengeja, berdo’a, belajar bahasa, semua disesuaikan dengan usia tumbuh kembang anak. Bila hati anak  senang otak akan menyerap lebih banyak. Menurut Elly Risman,S. Psi. anak yang dipaksakan pendidikannya akan menyebabkan kerusakan pada hippocamusnya-bagian otak besar yang berperan pada kegiatan mengingat dan navigasi ruangan.

Anak-anak membutuhkan suatu proses dan waktu untuk dapat menemukan sendiri keistimewaan yang dimilkinya.   Dalam belajar, sebaiknya anak selalu dalam kondisi yang menyenangkan, jauh dari tekanan, bentakan, dan stres. Pendidikan yang baik bukan hanya mempercepat kecerdasan intelektualitasnya saja. Pendidikan yang baik adalah yang utuh memberikan  pelajaran pada pikiran, hati, fisik, dan jiwa anak. Anak-anak diberi pengetahuan agar dapat berpikir kritis, sehingga cakap memecahkan masalah hidup yang akan mereka hadapi kelak.  Diharapkan dengan pengetahuan yang terbina dengan baik yang melibatkan aspek kognitif dan emosional akan melahirkan berbagai kreativitas. Anak-anak tidak akan terbelenggu oleh patokan-patokan sehingga mampu melahirkan ide-ide cemerlang (out of the box).

By. Indira Yunia Elvi