Mengetahui kisah, meneladani, betapa sabar dan penuh kasihnya seoarang Hajar, ibunda Ismail, istri nabiyullah Ibrahim Alaihissalam. Beliau dengan ketabahannya, kasih sayangnya telah berusaha sekuat tenaga mencari air agar anaknya tetap bertahan hidup di tengah padang pasir yang tandus. Nyata-nyata Hajar sangat bulat mencintai Allah SWT. Mentaati semua perintahNya dan sabar menghadapi cobaanNya.

Tabah, dalam bahasa Syariah berarti Sabar. Dalam hal ini adalah sabar sebagai orang tua ataupun pendidik. Anak dengan ber­bagai karakternya, satu sama lain tidaklah dapat disamakan. Kitalah sebagai madrasah yang harus sabar dalam memahami mereka. Kita harus tahu mereka punya banyak gaya belajar. Ada berbagai cara mereka memahami sesuatu. Banyak cara mereka untuk belajar. Tak jarang kita mendengar orang tua mengeluh, sudah les, sudah kursus ini itu tetapi nilainya masih saja rendah. Ada lagi keunikan seorang anak yang sulit menerima sesuatu pelajaran. “Sudah diajari berulang-ulang tidak juga paham,” kata seoarang ibu. Kasus lain seorang anak yang memorinya tidak bisa menyimpan materi atau pelajaran dalam waktu yang lama. Yang mungkin lebih parah lagi ada anak yang tidak sanggup memahami suatu perintah!

Wahai Bunda, ibu, para pendidik, anak dengan berbagai keunikannya itu ada yang bisa belajar hanya dengan cara mendengar, ada yang sanggup belajar hanya dengan melihat dan mengamati, ada pula yang cara belajarnya dengan gerakan tubuh. Sangat salah kalau kita melarang anak yang banyak bergerak, jalan kesana kemari, dan terkesan tidak bisa diam. Kita kadang juga merasa kesal jika anak terlalu banyak bertanya, berbicara dan mungkin juga akan dianggap cerewet. Itulah cara mereka dalam belajar. Tipe anak yang suka bergerak dia akan lebih mudah mengingat pelajaran, misalnya menghafal dengan cara melompat-lompat. Tipe anak yang mengandalkan pendengaran dia akan lebih cepat menerima pelajaran dengan cara mendengarkan kaset atau dibacakan buku. Selanjutnya anak yang memiliki gaya belajar dengan melihat akan lebih suka belajar dengan melihat langsung apa yang dia pelajari. Misalkan penjelasan disertai gambar atau film-film.

Berkaca pada Siti Hajar yang sepenuhnya melimpahkan kasih sayang pada Ismail anaknya, kitapun sebagai pendidik harus jugalah demikian. Mendidik dengan tekanan, memaksa, tidak akan menghasilkan apa-apa. Ibarat kertas yang masih bersih dan tipis akan sobek jika terlalu dipaksa mengisinya dengan cara menulis dengan keras-keras. Sabar dalam memberikan pelajaran, sabar dalam memahami cara mereka belajar. Sabar juga mengikuti ke arah mana mereka akan tumbuh melalui fase-fasenya. Sebagai muslim, sangat penting bagi kita meneladani pola asuh yang dicontohkan para nabi dan rasul dalam mendidik putra-putrinya. Limpahkanlah kasih sayang seiring dengan tumbuh kembangnya. Jangan terlalu protektif ataupun terlalu bebas. Dalam pengasuhan yang penuh kesabaran, kasih sayang, tanggung jawab dan penghargaan akan menumbuhkan generasi-generasi yang berkepribadian matang, berjiwa besar dan berani mengambil resiko. Dan yang tak kalah penting dari orang tua dan pendidik adalah doa-doa. Kekuatan do’a dua arah dari orang tua dan para pendidiknya Insya Allah akan dapat mengiringi anak-anak dalam meraih masa depannya. Wallahu a’lam bisshowab.