Anak merupakan amanah bagi kita para orangtua, sehingga menjadikan putera – puteri kita sebagai anak yang sholeh dan solekhah merupakan harapan dan kebanggaan kita, lebih-lebih sebagai orang yang beriman  tidak ingin dalam dinamika kehidupannya terisi oleh hal-hal yang hina sehingga dapat merusak tatanan kehidupannya, justru dengan kekuatan iman itulah menjadikan hidupnya lebih bermakna dan berdaya guna. Keimanannya mampu menjadi perisai dari berbagai sifat keburukan, sekaligus menguatkan sifat – sifat kemuliaan, sebagai firman-Nya dalam Al Qur’an surat An Nahl (16) : 60 : “Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk, da Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi, dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Sifat keburukan jika bersemayam dalam diri, dan tidak ada upaya sedikitpun untuk kembali pada kebenaran, bahkan semakin sempurna keburukan itu, merupakan kehinaan yang sejati, dan tragisnya mereka justru membanggakan keburukannya, sehingga kemuliaan nilai-nilai kemanusian telah berubah menjadi kehinaan yang sangat membahayakan. Lebih lanjut Allah SWT berfirman dalam surat An Nisa’(4) : 50 : “ Perhatikan, betapakah mereka mengada-adakan dusta terhadap Allah, dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata (bagi mereka)”. Ayat ini benar-benar menyadarkan kepada kita betapa bahaya sifat keburukan yang berupa kedustaan, kebohongan, kecurangan, ketidak jujuran, dan itu semua merupakan dosa yang nyata, dimana sering kita jumpai dalam berbagai aktivitas kehidupan, sehingga kita diingat oleh Rasulullah SAW yang bersabda : “Pedagang yang amanah dan
benar akan bersama dengan para syuhada di hari qiyamat nanti
” (HR.Ibnu Majah dan al-Hakim). Sehingga profesi apapun kita, tetap untuk menguatkan kejujuran, sehingga anak-anak yang sholeh dan sholekah bisa terwujudkan, hingga meraih prestasi yang membanggakan.

Sifat Kenabian

Rasulullah Muhammad SAW merupakan pribadi yang memiliki kemuliaan akhlaq, keluhuran budi pekerti, dan kesempurnaan sifat sehingga patut untuk diteladani karena dapat menjadi solusi ketika berbagai bentuk sifat kerendahan dan ketidak jujuran semakin menjadi panglima dalam kehidupan ini. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al Qur’an surat Al Ahzab (33) : 21 : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (Rahmat) Allah dan (Kedatangan) har kiamat dan dia banyak menyebut Allah”, ayat ini sudah begitu populer tersampaikan diberbagai media dakwah yang ada, namun sayangnya masih kurang digali lebih-lebih diaplikasikan, sehingga keteladanan Rasulullah Muhammad SAW menjadi sesuatu yang asing bahkan dipermalukan dikarenakan sudah bobroknya tatanan, dimana kejujuran dihancurkan menjadi kecurangan, akibatnya kemuliaan semakin dihinakan.

Upaya para orangtua  dan para pendidik untuk menananamkan kebenaran yang tercermin dalam sifat-sifat kenabian harus terus dimaksimalkan, hal ini sangat serius mengingat problematika kehidupan disekitar kita semakin berat, sehingga menggali sifat-sifat kenabiaan yang penuh kemuliaan tidak bisa kita lepaskan dalam setiap proses pendidikan. Sifat- sifat kenabian yang tercermin dari pribadi Rasulullah Muhammad SAW itu berupa :

  1. Ash Shidiq ( jujur, benar ), merupakan sifat yang terpuji, dimana adanya kesesuaian antara ucapan dan perbuatan dengan sebenarnya; jujur itu apa adanya tanpa kepentingan lainnya. Kejujuran Rasulullah SAW mampu meluluh lantakkan kecurangan yang telah mendominasi kehidupan saat itu, sehingga kejujuran merupakan salah satu pilar bagi penguatan kehidupan, lebih – lebih dalam proses pendidikan untuk dijadikan karakter, sehingga anak didik menjadi pribadi yang unggul karena kejujuran dan kebenarannya.
  2. Amanah ( dapat dipercaya ), merupakan salah satu sifat wajib bagi Rasulullah SAW, dalam mengemban amanah untuk dijalankan dengan sebaik-baiknya, dan lawannya adalah khianat (melanggar janji setia, tipu daya). Keteladanan Rasulullah SAW khususnya terkait amanah  ini membuat para musuh setia berubah menjadi sahabat setianya, sehingga dalam menjalankan amanah di dunia pendidikan harus dimaksimalkan, agar anak didik kita tetap setia membawa karakter kemuliaannya.
  3. Tabligh ( menyampaikan ), upaya mendakwahkan kebenaran kemasyarakat secara luas merupakan tugasnya meski penuh resiko di depannya, dan tidaklah mungkin Nabi SAW menyembunyikan kebenaran wahyu itu, sehingga melakukan tabligh merupakan upaya terapis bagi kehidupan masyarakat yang semakin mendekati titik kehancuran, sehingga kebenaran harus dideklarasikan dan dipublikasikan, konsistensi dalam kegiatan tabligh ini akhirnya berbuah terjadi percepatan dalam menuju kebaikan. Hal ini sangat relevan sekali ketika kemungkaran terus mendominasi, ketidak jujuran bebas tanpa kendali, sehingga menyampaikan kebenaran wahyu mampu meredam dan memadamkan keangkuhan, untuk membangun persaudaraan dan kerukunan.
  4. Fatonah (cerdas), sangat mustahil bagi Nabi SAW itu bodoh (jahlun), justru beliau memiliki kecerdasan yang luar biasa baik dari aspek intelegensi, emosional dan spiritual, yang diimplementasikan dalam aspek ibadah, akhlaqul karimah dan muamalah, sehingga kecerdasan yang dilandasi wahyu mampu menjadi pencerah peradaban untuk melepaskan kebodohan, sehingga meraih kejayaan, dan di sinilah peran pendidikan sangat diharapkan untuk terus melakukan proses penecerdasan secara jujur dan benar.

Karakteristik Anak Sholeh

Anak Sholeh dan Sholehah adalah dambaan setiap orangtua, dan tidaklah mungkin para orangtua menelantarkan anak-anaknya, meski dengan segala keterbasan ekonomi yang ada, akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk kesuksesan anak-anaknya, sukses bukan hanya dalam aspek materi saja, tetapi lebih dari itu sukses dalam arti seutuhnya. Banyak orang sukses dari karier dan kesejahteraannya namun moralnya sungguh menakutkan, karena melakukan pengrusakan dan penipuan, dan kita juga tidak ingin anak-anak kita hidup dalam kondisi serba kekurangan materi dimasa depannya, sehingga keutuhan kesuksesan baik dari aspek financial maupun spiritual harus dibangun dalam setiap proses pendidikan bagi anak – anak kita. Ada beberapa karakter anak soleh, diantaranya :

  1. Aktif beribadah, adanya kesadaran dalam beribadah pada anak-anak terbangun oleh pembiasaan dan keteladanan, dimana orangtua yang juga ahli ibadah, sehingga anak-anakpun akan mengikutinya, meski kadangkala perlu diingatkan itu semua dalam bentuk pendidikan, selanjutnya tanpa ada paksaan anak-anak terbiasa untuk sholat, baca al Qur’an, maupun puasa, sebagai bentuk ketaatan dan rasa syukur pada-Nya, sehingga ketika beribadah dapat dilakukan dengan setulusnya dan sejujurnya.
  2. Sikap Jujur, ketika aktivitas ibadah sudah terbiasa, maka dalam diri anak akan terbiasa melakukan kebaikan dan kejujuran, dia bukan orang yang suka berbohong atau pendusta, pola bicara dan aktivitasnya ada kesesuaian. Baik di rumah, sekolah mapun dalam pergaulannya terus diwarnai dengan sikap kejujuran. Meski ada ejekan dan rayuan untuk melakukan ketidakjujuran dia masih konsisten dengan keunggulan budi kejujuran.
  3. Santun, adanya control diri dalam berinteraksi, sehingga gaya bicara dan tingkah lakunya santun, bukan arogan yang sangat membahayakan, baik ketika berinteraksi kepada orangtua, guru, keluarga dan teman-temannya serta masyarakat sekitarnya.
  4. Peduli, tumbuhnya rasa kepedulian pada anak-anak merupakan buah dari sikap sempurna yang selama ini dilakukan, dan itu dilakukan secara spontan ketika ada pihak-pihak yang membutuhkan bantuan. Ketika dia punya uang bisa disisihkan untuk diinfaqkan; punya kemampuan atas pelajaran bisa dibagi terhadap teman-temannya untuk bisa dikuasai; punya kemampuan fisik akan rela membantu mengurangi beban yang ada.
  5. Bekerjasama dalam kebaikan, dari kepedulian itulah dikembangkan untuk melakukan kerjasama dalam kebaikan, menyadari besarnya tantangan sehingga tidaklah mungkin dilakukan sendiri, sehingga melibatkan teman-temannya untuk bekerjasama melakukan kebaikan. Baginya sikap egois tidak ada manfaatnya, sehingga kebersamaan merupakan energy untuk mempercepat perubahan menuju kebaikan, dan menghancurkan kerendahan, keserakahan serta kelicikan.

Anak soleh merupakan pribadi yang utuh dan bukan pribadi yang instan yang saat ini sering termunculkan, dan mengakibatkan anak-anak kita kehilangan identitas kepribadiannya yang unik, sehingga meresahkan semua pihak, maka kehadiran anak soleh bisa menjadi solusi atas kondisi keterpurukan pelajar dan generasi muda. Pentingnya Kejujuran

Kejujuran merupakan prasyarat utama di dalam berbagai aktivitas kehidupan, sehingga jika kejujuran sudah ditinggalkan maka kehancuran dan kebobrokan akan mewarnai kehidupan itu. Jika kita melihat maraknya kasus ketidak jujuran yang sering termunculkan diberbagai media cetak dan elektronika, sepertinya kita pesimis untuk bisa menegakkan kejujuran, hal ini terkait rasa keadilan yang semakin menyuburkan ketidak jujuran. Karena kita masih punya harapan, sehingga seberat apapun tantangan yang ada, maka upaya menguatkan kejujuran harus dilakukan. Sebagaimana hadist Nabi Muhammad SAW, dari ‘Abdullah bin Mas’ud, beliau bersabda : ” Sesungguhnya kejujuran itu menunjukan pada kebaikan, dan kebaikan itu menunjukan kepada surga. Dan bahwasannya seseorang yang senantiasa berkata jujur, akan dianggap sebagai orang yang jujur. Sesungguhnya kebohongan menunjukan kepada kemaksiatan dan kemaksiatan menunjukan pada neraka. Dan seseorang yang terbiasa berkata bohong, maka ia akan dicatat oleh Allah sebagai pendusta.” ( H.R. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi )

Orangtua dan sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam menanamkan kejujuran pada anak-anak bangsa yang menjadi penerus kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia. Bekal kejujuran sangat ampuh menjadi perisai dari berbagai bentuk kerendahan moral dalam bentuk ketidak jujuran. Korupsi yang tiada henti terus membentuk koloni, sehingga rakyat dan bangsa Indonesia dirugikan oleh mereka yang tidak bertanggung jawab, karena melakukan penyalahgunaan kewenangan. Disamping itu,  putusan hakim yang tidak membuat jera para koruptor sehingga sepertinya mereka bangga dengan ketidak jujurannya , maka ketika ada kebijakan pemiskinan bagi para koruptor diharapkan dapat mengurangi aksi-aksi kejahatannya.

Program pendidikan disekolah diharapkan bisa mensinergikan perilaku kejujuran di dalam setiap pembelajarannya, baik yang bersifat afektif, kognitif dan spikomotor, sehingga anak didik tidak merasa asing dengan sifat kejujuran bahkan mampu mengembangkan perilaku kejujuran dalam berbagai aktivitas kehidupannya. Kejujuran yang sudah menjadi karakter anak, akan mampu mematahkan setiap tindakan yang cenderung destruktif, sehingga anak didik dengan kesadaran dan kecedasannya dapat memilah dan memilih berbagai tindakan yang terbaik bagi kehidupannya.

Pembelajaran kejujuran bukan hanya tanggung jawab guru agama saja, tetapi merupakan tanggung jawab bersama semua guru, karena setiap mata pelajaran yang ada bisa digali aspek-aspek kejujuran bagi pembinaan anak – anak ketika disekolah untuk dikembangkan dalam aspek kehidupan yang lebih luas dimasyarakat.

             Program Kejujuran di Sekolah

Ada banyak program pendidikan dalam bentuk pembiasaan yang dapat memacu tumbuhnya kejujuran pada diri siswa, diantaranya adalah :

  1. Penguatan dan Pembiasaan Ibadah, upaya ini harus menjadi bagian program pendidikan yang diprioritaskan, agar anak-anak terbiasa beribadah dan tidak merasa tertekan sehingga enggan beribadah. Anak-anak beribadah dengan penuh kesadaran diri dan jujur, bahwa beribadah merupakan tujuan dari hidupnya.
  2. Dongeng Keteladanan, informasi keteladanan harus disampaikan secara menarik, sehingga menjadi pola pandang bagi anak-anak untuk terus melakukan kebaikan dan kejujuran,  karena ada banyak informasi yang justru dapat merusak sendi-sendi moral dan dapat menghancurkan kejujuran.
  3. Pembiasaan Kejujuran, anak – anak yang dibiasakan disiplin dan menjadi bagian dari karakternya akan meraih keunggulan  dalam prestasinya, karena terbiasa untuk disiplin dalam belajar, berbadah, menjaga kebersihan, penggunaan keuangan, kepemimpinan di sekolah, dan ketika ulangan akan tetap jujur dan malu rasanya jika menyontek.
  4. Permainan dan lomba Kejujuran, mengingat dunia anak merupakan dunia bermain, maka ketika pembelajaran dan pelatihan kejujuran diharapkan bisa diterapkan dalam berbagai bentuk permainan kreatif dan menyenangkan. Bertujuan untuk komitmen dengan kejujuran, sehingga mereka yang jujur akan bangga dan menang, sedang yang curang akan malu dan menyesal.
  5. Pembelajaran Integral, kejujuran diharapkan menjadi tema pembelajaran pada setiap mata pelajaran, sehingga semua guru dan lingkungan sekolah mengintegralkan pada konsep kejujuran pada anak didik.

Kejujuran berbuah Prestasi

Allah SWT berfirman “Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu sekalian kepada Allah dan jadilah golongan orang-orang yang jujur”. ( Q.S. At Taubah : 114 ), menyandingkan kata iman dan Taqwa dengan kejujuran menunjukkan betapa mulianya sikap kejujuran, sehingga menjadikan keimanan dan ketaqwaan kita menjadi sempurna ketika kejujuran bersinergi di dalamnya menjadi karakter kesehariannya. Dan menilik hadits Nabi Muhammad SAW di atas semakin meyakinkan kita bahwa kejujuran dapat membuka pintu-pintu kebaikan dan itulah prestasi sejati ketika mampu berkomitmen dengan kebaikan. Sehingga ketika dia berilmu, dipergunakan dengan sebaik-baiknya, bukan digunakan untuk kecurangan; ketika berharta, dipergunakan secara maksimal untuk mensyukurinya dengan menggunakan harta tersebut dengan sebaik-baiknya, dan baginya pemborosan adalah kesesatan, serta mencari harta dengan penipuan/kecurangan merupakan sifat kehinaan; ketika mengemban suatu jabatan, dilakukan dengan penuh amanah, professional dan transparan, dan bukannya untuk melakukan kesewenangan dan bebas melakukan penyelewengan, dan melegalkan korupsi.

Anak-anak yang terbangun karakter kejujuran, sejatinya sedang menuju tangga prestasi, karena mampu melakukan aktivitas belajarnya dengan sebaik-baiknya. Dan anak soleh merupakan pribadi yang senantiasa komitmen dengan kebaikan, kebenaran dan ketulusan, sehingga anak-anak soleh dan solehah yang senantiasa jujur baik terhadap orangtua, guru dan lebih-lebih pada Tuhannya, akan menjaga prestasi kemuliaan itu, termasuk prestasi akademiknya sebagai bekal meraih prestasi yang lebih luas dan penuh tantangan berupa prestasi professional.

Anak soleh itu jujur dan berprestasi, dapat memotivasi kita semua untuk lebih focus melakukan pembinaan dan keteladanan pada anak didiknya, dan keberadaannya sangat diharapkan untuk menjadi penerus kehidupan berbangsa dan bernegara yang semakin terpuruk untuk bisa bangkit memperbaiki dari keterpurukan yang ada.Dan  Pendidikan anak soleh harus menjadi energi menuju Indonesia yang lebih baik.

Kecerdasan dan Prestasi

Upaya pendidikan dalam mencerdaskan anak-anak bangsa agar berprestasi dan unggul hendaknya  dilakukan secara integral sesuai dengan keunikan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing anak didik, hal ini lebih berkeadilan dan memanusiakan anak didik, dimana pihak sekolah, orang tua dan masyarakat bisa lebih jujur melihat kenyataan dari kemampuan yang dimiliki siswa. Penilaian sepihak atas kondisi anak tanpa ada usaha menggali kemampuan lainnya, seharusnya segera diakhiri. Menurut Howard Gardner pakar psikologi dari Harvard University, bahwa manusia memiliki delapan kecerdasan majemuk, yang terdiri dari : 1)  Kecerdasan Linguistik, 2)  Kecerdasan Spasial, 3) Kecerdasan Matematis , 4) Kecerdasan Kinestetis , 5) Kecerdasan Musik, 6) Kecerdasan Interpersonal, 7) Kecerdasan Intrapersonal, 8) Kecerdasan Naturalis.

Penilaian kita terhadap anak selama ini lebih didasari pada kecerdasan intelektual (IQ) yang dirintis sejak tahun 1912 oleh William Stern, sehinga kemampuan berhitung, imajinasi dan daya kreasi lebih diprioritaskan, padahal menurut Daniel Goleman masih  ada aspek lain yang berupa kecerdasan emosional (EQ) yang lebih berperan membantu kesuksesan seseorang dibanding kemampuan IQ, serta kecerdasan spiritual (SQ) yang dipelopori oleh Danar Zohar (Harvard University) dan Ian Marshall (Oxford University), kecerdasan inilah yang dianggap penentu kesuksesan seseorang. Dari gambaran di atas semakin menyadarkan kepada kita akan adanya keunikan yang dimiliki anak-anak kita, sehingga para orangtua, guru disekolah dan masyarakat diharapkan mampu memberikan ruang penghargaan bukannya menyalahkan dan menyudutkan sebagai anak yang bodoh, padahal dia memiliki kemampuan lainnya yang selama ini kurang diperhatikan dan ditumbuh kembangkan, untuk bersama-sama mengukir prestasi dengan keragaman potensi yang dimiliki.

Prestasi Kejujuran Anak Sholeh

Kita benar-benar prihatin atas fenomena kehidupan disekitar kita, dimana pendidikan tinggi yang sudah diraih ternyata masih sering kita jumpai tidak sebanding dengan produktivitas karyanya, justru menyalahgunakan untuk kepentingan pribadi dengan melakukan korupsi. Akar masalahnya bukan pada pendidikan tingginya, tetapi pada kredibilitas dari individu tersebut yang tidak mampu mengaktualisasikan diri dengan peran-peran kejujuran. Saatnya pendidikan kita memasukkan muatan kejujuran lebih-lebih menjadikan sekolah sebagai sekolah anak soleh, karena dari penataan itulah akan melahirkan prestasi-prestasi yang membanggakan.

Pendidikan integral yang akan melahirkan anak-anak soleh, mampu mensinergikan kekuatan intelektual, emosional dan spiritual dengan prestasi-prestasi yang membanggakan karena adanya rasa tanggung jawab, sehingga ketika melakukan berbagai aktivitas kerja senantiasa mengedepankan : kejujuran, kebenaran, professional, disiplin, akurat, tepat waktu, produktif, inovatif, peduli, saling menghargai dan menghormati, serta mau menerima saran dan kritikan.

Anak soleh memiliki kesadaran diri untuk mengendalikan diri, sehingga ketika berinteraksi mampu mencerminkan nilai-nilai akhlaqulkarimah, baik terhadap orangtua, guru, dan teman serta masyarakat disekelilingnya, sehingga apa yang dilakukan adalah kesantunan dan kepatutan, serta jauh dari sikap permusuhan, kedengkian, kecurangan serta kesewenangan. Justru kehadiran anak soleh selalu memberikan solusi dan bukannya bagian dari masalah yang ada, keadaan ini merupakan prestasi yang dibangun sejak dini dan menjadi pembiasan diri.

Anak soleh yang terbangun kejujurannya selalu termotivasi dalam belajarnya sehingga berprestasi baik dari aspek akademik maupun non akademik, lebih dari itu juga mampu mengembangkan etika social sebagai pondasi dalam melakukan interaksi social  yang lebih menantang. Kedisiplinannya tidak tergoyahkan oleh berbagai rayuan dan tipuan meski beresiko tetap konsis mempertahankan komitmen kejujuran.

Jangan sampai kejujuran dirusak oleh kehinaan, dan selamatkan anak-anak kita untuk tidak terbawa oleh budaya kecurangan, kebohongan, dan penipuan,  tetapi mampu menjaga kejujuran dan tetap membanggakannya, meski sudah banyak korban yang diterjeng sifat kehinaan, justru anak soleh mampu tampil elegan sebagai pribadi yang cemerlang penuh prestasi. Yakinkan bahwa kejujuran mampu meraih prestasi yang membanggakan untuk suksesnya kehidupan, jauhi kecurangan karena penuh kehinaan.