Pendahuluan

Kemerdekaan bangsa Indonesia sudah 67 tahun dilalui, di dalamnya penuh dengan dinamika baik yang bercorak pembangunan, pergulatan politik, pengembangan ekonomi untuk kesejahteraan hingga terjadinya reformasi yang sudah 14 tahun berlalu, sepertinya bangsa ini mulai kehilangan jati dirinya, ketika korupsi semakin menggurita dari tingkat elite disekitar istana hingga di desa-desa dan belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan, perilaku wakil rakyat yang seharusnya peduli, ternyata masih ada yang memusuhi dan melupakan aspirasinya; keramahan warga yang pernah mengagumkan dunia, sekarang kita sering saksikan tindakan kekerasan, arogansi, anarkhisme dan sejenisnya sehingga semakin menakutkan, dan keamanan mulai rapuh, persaudaraan mulai memudar serta konflik terus berkepanjangan dan entah sadar atau tidak asset-aset kekayaan bangsa dikuasai pihak asing dengan dalih kesejahteraan namun yang ada penindasan terhadap rakyatnya sendiri.

Jati diri bangsa merupakan kepribadian luhur dan mulia, dan merupakan asset kekayaan bangsa yang bernilai strategis untuk penguatan dan kemajuan bangsa ketika dihadapkan pada persaingan global yang membawa liberalisasi ekonomi yang semakin tidak terelakkan, benturan budaya dan peradaban yang setiap detik kita rasakan, jika kita lengah dalam penguatan jati diri bangsa akan tergilas dan menjadi bangsa yang lemah karena tidak berkualitas. Mengingat peradaban kehidupan ke depan akan survive, bergantung pada kualitas individu, kecepatan gerakan, managerial yang handal dan jaringan  yang luas untuk disinergikan. Dan pendidikan memiliki peran strategis untuk mengawal penggalian jati diri bangsa untuk diberikan pada anak didik, sehingga potensi dirinya berkembang dan diharapkan mampu memberikan solusi bagi perbaikan kehidupan bangsa yang bermartabat dan berdaulat, sehingga kesejahteraan dan keadilan bisa terwujudkan, karena memang pendidikan diarahkan untuk membangun kesadaran diri dan mampu menguatkan nilai-nilai kemanusiaan.

Pengertian dan Relevansi

Jati diri berasal dari bahasa Jawa: Sejating diri, yang berarti siapa diri kita sesungguhnya, hakikat atau fitrah manusia, juga disebut Nur Ilahi yang berisikan sifat-sifat dasar manusia yang murni dari Tuhan yang berisikan percikan-percikan ilahiah dalam batas kemampuan insan yang dibawa sejak lahir [1]. Jati diri sesungguhnya bukan sesuatu yang asing bagi diri kita, justru telah melekat kuat pada nilai – nilai kemanusian, hanya karena kurang digali bahkan terus dilindas oleh nilai – nilai yang berseberangan sehingga kondisi jati diri semakin terpuruk dalam lembah kehinaan, dan tragisnya nilai-nilai kehinaan ini semakin dibanggakan untuk dimenangkan, sehingga keluhuran nilai kemanusiaan terkubur dan didominasi oleh sifat keserakahan, ketamakan yang menakutkan bagai sifat kebinatangan.

Memperhatikan fenomena kehidupan yang lebih mengedepankan egoisme dan kepentingan sesaat untuk mendapatkan jabatan dan financial sehingga menghalalkan kecurangan, yang tidak peduli lagi dengan nasib penderitaan rakyat yang termarginalkan, membuat yang memiliki nurani merasa prihatin, dimana bangsa yang besar ini dimangsa oleh anak-anak bangsa yang mengaku elite dan seorang negarawan, namun kelakuannya sungguh menghinakan.

Sebagai anak bangsa yang peduli dengan kondisi bangsanya seharusnya kita ingat ucapan Presiden Republik Indonesia yang pertama Ir. Soekarno, yang menyatakan :” Nation and Character Buiding”, Bangunan jati diri bangsa sangat ditopang oleh kondisi karakter dan jati diri masyarakat serta individu-individu dari bangsa itu, yang berkomitmen untuk membangun kekuatan bangsa. Setelah kemerdekaan bangsa diraih dengan perjuangan dan pengorbanan, dan saatnya anak-anak banggsa untuk dapat mengisi kemerdekaan ini dengan karya-karya besarnya, hal ini terwujud manakala adanya jati diri bangsa yang unggul. Pernyataan Ir. Soekarno itu benar-benar memotivasi kita para anak bangsa untuk berkomitmen menjadikan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebagai Negara yang kuat dengan karakter keunggulan sehingga mampu berkompetisi dalam gerakan globalisasi yang sangat kuat saat ini. Dan ditegaskan lagi oleh Presiden Republik Indonesia Susilo  Bambang Yudhoyono, dalam sambutan pada acara puncak Hari Pendidikan Nasional, di Candi Prambanan, 26 Mei 2007; “ Tanpa adanya jati diri bangsa, suatu bangsa akan mudah terombang-ambing dan kehilangan arah dalam era globalisasi yang bergerak cepat dewasa ini”. Sehingga relevansi untuk menggali, mengembangkan dan menguatkan jati diri bangsa saat sangat tepat sekali, lebih-lebih kondisi keterpurukan bangsa masih belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

Belajar Sadar

Untuk sadar saja memang harus belajar, sehingga bisa menemukan akar masalah untuk dicarikan solusinya. Tidak mudah untuk bisa sadar, membutuhkan perjuangan yang serius dan panjang,  bahkan masih sering kita jumpai merasa enak dengan ketidak sadaran, meski kondisi bangsa semakin terpuruk, dan ketika dibangun kesadarannya kadangkala ada yang melawan, kita tetap bersyukur ada yang mau untuk membangunkan kesadaran, bukan untuk permusuhan tetapi untuk penguatan bangsa.

Kemerdekaan sudah 67 tahun dilalui, dan 14 tahun reformasi digerakkan, namun tanda-tanda perbaikan untuk bangkit dari keterpurukan masih jauh dari harapan, bahkan frekuensi penyimpangan di negeri ini semakin menjadi-jadi, meski sudah ada upaya penangkalan, pencegahan, pengawasan hingga tindakan hukuman namun tetap  tidak membuat jera dalam melakukan aksi penggarongan. Sadar sebagai anak bangsa yang bertanggung jawab terhadap nasib bangsanya, perlu diberikan apresiasi yang positif, karena mampu mengekspresikan jati dirinya untuk penguatan jati diri bangsa.

Kehadiran generasi bangsa yang memiliki kesadaran untuk perbaikan kondisi bangsa sangat diharapkan, sikap yang bijak adalah agar mereka tetap berada di dalam gelombang arus besar itu dengan memelihara daya kritisme yang tinggi, tetapi sopan sambil menciptakan ranah yang kondusif bagi tampilnya generasi kepemimpinan baru yang lebih segar, dengan integritas moral intelektual yang diakui semua pihak,[2] dari kesadaran inilah akan membuka cakrawala kebangsaan, yang mampu membuka sekat-sekat kedaerahan dan lainnya yang  cenderung eklusif, untuk membingkai kebhinekaan dalam persatuan dan kesatuan bangsa.

Kesadaran akan adanya keragaman suku, budaya, bahasa, bangsa, dan agama merupakan kenyataan di Indonesia, dan yang selama ini mampu menguatkan sendi-sendi bangsa, sehingga kehidupan bangsa berjalan harmonis penuh penghormatan meski ada perbedaan tidak menghalangi untuk menguatkan persaudaraan. Kesadaran ini akan mempermudah jalannya menuju kesejahteraan dan kedamaian, karena masing-masing pihak dihormati keberadaannya dengan penuh keadilan, serta mampu menyingkirkan rasa kecurigaan yang dapat memicu terjadinya konflik social yang dampak kerugiannya sangat besar. Sekali lagi kita harus banyak belajar untuk bisa sadar sebagai bangsa yang besar, bukannya bangsa yang selalu dijadikan kelinci percobaan yang mudah diatur oleh kepentingan lain, sehingga kedaulatan bangsa ditaruhkan. Untuk sadar, kita gali terus  jati diri bangsa untuk kemajuan dan kedaulatan bangsa.

Menggali Jati Diri Bangsa

Kebesaran dan keluhuran budaya bangsa Indonesia saat ini sepertinya sedang dipertaruhkan, ketika kejujuran diruntuhkan untuk dimenangkan kecurangan; etika kesantunan berubah kebringasan;  keteladanan pimpinan menjadi arogan penuh pemaksaan kehendak demi suatu kebijakan; kepedulian untuk saling berbagi sebagai bentuk filantropi menjadi korupsi untuk pemuasan kerakusan tanpa batas; pola hidup gotong royong sebagai bentuk kebersamaan dan persaudaraan berubah menjadi egois dan penuh permusuhan; penegakan keadilan yang membanggakan ternyata diruntuhkan, dimana kedilan bisa ditawar sesuai pesanan. Untuk itu kesungguhan melakukan perubahan dalam upaya menggali jati diri bangsa adalah permasalahan yang sangat urgen disamping permasalahan lainnya yang terus membelenggu bangsa.

Ada beberapa hal yang selama ini sudah menjadi karakteristik dan jati diri masyarakat dan bangsa, namun kurang dilakukan penguatan sehingga dianggap usang, padahal jika kita sadar sesungguhnya mampu untuk menjadi solusi kecemerlangan bangsa. Jati diri itu meliputi :

1)      Kesadaran Religi

Sila Pertama Pancasila benar-benar menjadi bingkai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga dari kesadaran beragama ini mampu mensinergikan nilai-nilai teologis, psikologis dan sosiologis untuk senantiasa produktif dalam beramal (karya), sehingga dengan penuh tanggung jawab dalam setiap amanah yang diembannya. Ketika ada penyimpangan segera berbenah dan tidak larut dalam berbagai bentuk kehinaan yang memalukan. Kesadaran relegi akan terus termotivasi untuk mengukir karya dan prestasi, sehingga mampu melepaskan dari keterpurukan, serta siap menjadi bangsa yang unggul karena dibingkai oleh nilai keagamaan yang luhur.

2)      Semangat Kejuangan

Sebagai bangsa pejuang tentunya sudah sangat paham segala penderitaan yang selama ini terasakan sehingga menjadi modal dalam menghadapi permasalahan kekinian, dan selanjutnya mampu menyiapkan permasalahan masa depan. Bangsa-bangsa besar yang saat ini berkibar, ditopang oleh semangat kejuangan dari seluruh elemen masyarakatnya, bangsa ini bukan bangsa yang ringkih dan instan, tetapi bangsa tangguh, kokoh yang penuh kesabaran untuk terus melakukan perbaikan sekaligus terobosan menemukan solusi permasalahan bangsa.

3)      Menguatkan Persaudaraan

Satu nusa satu bangsa, benar-benar menyadarkan kepada kita semua sebagai bangsa yang memiliki keragaman suku, budaya, bahasa, agama dan social ekonomi untuk diikat dalam satu persaudaraan, senasib dan seperjuangan. Upaya disintegrasi bangsa diakibatkan oleh adanya distorsi pemahaman tentang persaudaraan yang berkembang menjadi  isu-isu politik, keadilan, dan kesejahteraan hingga terjadi konflik yang merusak persaudaraan. Untuk itu kita bangun kembali persaudaraan sebagai modal penguat kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga lebih berdaulat karena kuatnya persatuan.

4)      Rela berkurban untuk kemaslahatan

Sejarah para pahlawan bangsa khususnya rela berkurban untuk kemaslahatan benar-benar menjadi teladan bagi anak bangsa, sehingga rela mengorbankan seluruh harta dan jiwanya untuk kemajuan bangsa. Kita benar-benar prihatin ketika ada upaya memperkaya diri sendiri dengan korupsi hingga mengorbankan saudara sendiri, untuk itu menumbuhkan semangat berkurban akan mampu menjadi bangsa yang lebih mandiri.

5)      Gotong Royong

Budaya gotong royong yang sudah menjadi budaya bangsa dan sudah melekat kuat sebagai bentuk kerjasama untuk saling membantu, memberikan kemudahan ketika ada saudara kesusahan. Semangat bergotong royong merupakan bentuk kesadaran untuk memperbaiki secara mandiri dalam memberikan solusi. Gotong royong seringkali disalah gunakan untuk suksesnya aksi penggarongan, hal ini diakibatkan oleh rendahnya integritas diri.

6)      Saling Menghormati dan Menghargai

Kebhinekaan bangsa dan terjaga keharmonisannya sudah lama menjadi bagian kehidupan bangsa, sehingga hal ini menjadi kekuatan bangsa jika dipelihara dengan saling menghormati dan menghargai, namun jika ada rasa superiotas atas yang lainnya sehingga keragaman menjadi permusuhan. Untuk itu sebagai warga tentunya kita tidak ingin terjadinya disharmonis dalam kehidupan ini, dan kita upayakan sikap saling menghormati dan menghargai sebagai penguat ketahanan nasional.

Peran Pendidikan

            Peran pendidikan sebagaimana diamanat dalam undang – undang Republik Indonesia nomor : 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pada Bab I Pasal 1 ayat 1 dinyatakan:  Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,bangsa dan negara. Semakin jelas betapa pentingnya proses pendidikan dalam mengembangkan potensi anak didik baik untuk keperluan dirinya sendiri, masyarakat, bangsa dan bernegara, bahkan pada Bab II pasal 3 dinyatakan tentang fungsi dan tujuan pendidikan nasional, yaitu : Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

            Begitu besarnya peran pendidikan dalam membingkai dan mengawal serta membina anak didik untuk kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih berdaulat dan bermartabat, sehingga ada beberapa upaya pendidikan untuk penguatan jati diri bangsa, diantaranya :

1)      Memantapkan empat pilar kebangsaan

Empat pilar kebangsaan yang terdiri : Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika, yang akhir-akhir ini terus disosialisasikan seharusnya tidak berhenti sebatas wacana dan retorika, tetapi mampu diimpplementasikan khususnya di dunia pendidikan agar anak didik memiliki kebanggaan dan jiwa nasionalisme sebagai penerus bangsa Indonesia. Pendidikan hendaknya mampu memfiltrasi secara obyektif dan rasional atas paham-paham yang dianggap bersebrangan dengan kebijakan nasional, sekaligus diharapkan mampu memberikan jawaban secara tepat dan bijak.

2)      Sekolah Kebangsaan

Sekolah sebagai miniatur Indonesia, dimana para pendidik dan peserta didiknya terdiri dari beragam suku, bahasa, agama dan budaya, diharapkan tidak menonjolkan latar belakang yang ada, tetapi dihargai dan dihormati dalam bingkai Indonesia Raya. Sekolah kebangsaan diharapkan mampu memberikan pencerahan untuk menguatkan persatuan bukan permusuhan, sekaligus untuk membangun rasa bertanggung jawab  sebagai anak-anak Indonesia untuk kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Arah pendidikan diharapkan mampu melahirkan pemimpin-pemimpin yang memiliki integritas tinggi sehingga dapat melahirkan pemimpin yang negarawan, bukan politisi yang murahan.

3)      Pembelajaran yang demokratis

Suasana belajar di sekolah diharapkan tetap mengejawantahkan prinsip-prinsip demokrasi, yang mampu menyeimbangkan antara hak dan kewajiban.  Menumbuhkan jiwa sportifitas yang elegan bukannya melakukan pengrusakan sehingga demokrasi berubah menjadi democrazi. Pendidikan adalah upaya pencerahan sehingga bentuk-bentuk pembodohan seharusnya dirubah menjadi prestasi yang membanggakan.

4)      Menggali sejarah keteladanan pahlawan bangsa

Pendidikan seharusnya tidak terjebak pada soa-soal Ujian Nasional yang telah menghabiskan ratusan milyar rupiah dalam setiap tahunnya hanya untuk mengukur dan memenuhi standar kelulusan, dan kurang serius menggali jati diri bangsa dan akibatnya anak – anak sangat lihai mengerjakan soal-soal ujian nasional tetapi kosong dan minim akan sejarah perjuangan bangsa yang seharusnya mampu menjadi inspirasi dan keteladanan dalam kehidupannya. Kita seharusnya prihatin ketika keteladanan para pahlawan mulai dilupakan dan lebih paham akan kehidupan para selebritis, karena media informasi kita lebih menyukai dunia gosip itu, sehingga apa yang menjadi pembicaraannya adalah sekitar gosip murahan itu, dan tragisnya anak –anak kita lebih bangga dengan sang idola dari pada membicarakan kehidupan keteladanan para pahlawan bangsa yang telah mengukir prestasi untuk bangsanya.

Bung Karno, sudah mengingatkan pada kita semua dalam ungkapannya “ jasmerah”, artinya jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, pernyataan ini bukan sekedar bahasa retorika saja tetapi benar-benar untuk meneladani kejuangan para pahlawan bangsa, sekaligus untuk mengukir prestasi bangsa, dari keterpurukan yang sampai kapan akan berakhir.

Revitalisasi Jati diri untuk Prestasi

            Indonesia bisa, Indonesia bangkit, untuk kesejahteraan dan kemakmuran, seringkali dijadikan media kampanye oleh para politisi ketika pemilu, dan sesudahnya yang bangkit dirinya sendiri, dan yang sejahtera dan makmur adalah juga dirinya sendiri, sedang yang memilihnya tetap dalam kondisi keterpurukan. Pada hal  potensi sumber kekayaan bangsa ini sungguh luar biasa, tetapi lagi-lagi pengelolaannya masih jauh dari harapan untuk kesejahteraan bangsa, yang diperparah belenggu korupsi yang terus merajalela, sehingga revitalisasi jati diri harus dilakukan agar prestasi bangsa segera terwujudkan, dan melalui pendidikan upaya itu harus dilakukan, sehingga pengelolaan bangsa ini sesuai cita-cita luhur kemerdekaan.

Mengelola dan mengawal sebuah bangsa yang besar dan plural, seperti Indonesia ini   penuh tantangan, semisal berupa problematika sosial seperti: persoalan kemiskinan dan pengangguran, akses pendidikan Tahun 2010 Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, angka kemiskinan di Indonesia sebesar 13,3 persen atau 31 juta orang yang masih berada di bawah garis kemiskinan, dengan kondisi alam yang terdiri dari tebaran pulau dan kepulauan yang berjumlah sekitar 17.000 pulau dan sedikitnya 500 suku dan jumlah penduduk mencapai 237,6 juta jiwa. Maka upaya revitalisasi jati diri bangsa untuk kemajuan bangsa sangat diharapkan.

Melalui Revitalisasi jati diri bangsa,  anak didik kita harus  dibantu untuk mengenal dan mengawal serta mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya agar unggul dan berprestasi, sehingga seluruh kekayaan alam ini benar-benar untuk menggapai kesejahetraan dan kemakmuran seluruh rakyat Indonesia. Kekayaan kemaritiman yang seringkali ditelantarkan bahkan hingga dicuri oleh Negara-negara asing, maka dari anak didik yang berprestasi tadi akan mampu memaksimalkan kemaritiman untuk kesejahteraan.

Berbagai kekayaan alam baik yang berupa hutan dan  tambang mineral yang menggiurkan Asing sehingga terus dilakukan eksploitasi secara besar-besaran sedang rakyat sekitar hanya penonton bahkan ada yang sampai jadi korban ketika penyampaian hak-haknya. Maka anak didik yang berprestasi yang unggul jati dirinya tidak akan rela kekayaan negerinya dimanfaatkan Asing, dengan kemampuan ilmu dan keterampilannya akan berusaha menyelamatkan kekayaan Negara dan bukannya digadaikan pada Negara-negara Asing, sehingga Negara tidak berdaulat dalam mengelola seluruh asset kekayaan bangsa.

Untuk itu upaya revitalisasi jati diri bangsa, meliputi beberapa aspek diantaranya: Penguatan pendidikan untuk kesadaran dan pencerahan;  Komitemen kebangsaan untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme dan kepahlawanan sejati; Konstruktif dalam menegakkan kebijakan dan keadilan sehingga mengurangi bentuk yang destruktif; Keteladanan dan bermoral mulia, sehingga membanggakan; Menguatkan persaudaraan sehingga menjadi daya gerak untuk kebangkitan Indonesia.

Betapa indahnya Nusantara di katulistiwa tetapi hanya bisa dilihat saja, betapa kayanya Nusantara tetapi masih miskinnya rakyatnya. Dan ketika kuatnya jati diri bangsa dan berbuah prestasi menjadi,  betapa indahnya nusantara membuat hati bangga dan bahagia, betapa kayanya nusantara sehingga rakyatnya sejahtera.



[1] Soemarno Soedarsono, Membangun Kembali Jati Diri Bangsa, Yayasan Jati Diri  Bangsa. Gramedia,14

[2] Ahamad Syafi’I Ma’arif, Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan,mizan,Bandung,2009,306