SEDEKAH NDAK HRS KAYAKetika banyak ragam kehidupan yang cenderung konsumtif, dengan semakin membanjirnya berbagai produk dan jasa yang menggiurkan untuk dinikmati dan dibanggakan, meski bersusah payah untuk mendapatkannya tidak menjadi penghalang dalam pemenuhan  kepuasan, persoalan harga tidak jadi pertimbangan karena semakin tinggi harganya semakin menunjukkkan prestise seseorang. Pola hidup konsumtif semakin menggila merasuki pribadi-pribadi yang menjadikan Mall sebagai media “spiritualitasnya”, di situlah terjadi berbagai transaksi yang menggiurkan, lebih-lebih adanya special discon sehingga berjubelan anak manusia membuat antrian panjang, dan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan produk yang ditawarkan, tanpa mempertimbangkan resiko akibat massa yang berdesakan. Fasilitas pusat perbelanjaan, aneka kuliner, jasa kebugaran, pentas musik, dan berbagai symbol komsumtif lainnya bertaburan menawarkan produk unggulannya, seakan tersihir oleh mantra sehingga lupa akan jati dirinya, lebih-lebih didampingi para pelayan cantik dengan ramah dan senyum menggoda sehingga tak kuasa menebarkan berjuta-juta rupiah untuk mengikuti ritme ritual gaya hidup hedonisme.

      Sungguh berbahagia dan sangat luar biasa ketika hantaman badai konsumtif masih bisa menampilkan sosok manusia yang  tak tergoyahkan dan  masih konsisten menjaga karakter diri untuk senantiasa peduli dan berbagi atas nikmat yang telah diberikan sebagai wujud rasa syukur yang sebenarnya. Berbagai sihir dan mantra konsumtif tidak mampu merubah karakter berderma sebagai bentuk kemuliaan diri yang sejati. Kemampuan diri berkarakter penderma pada saat ini mulai kelihatan asing, hal ini bukan dikarenakan terbatasnya financial  tetapi lebih banyak dikarenakan oleh perubahan orientasi yang cenderung mengedepankan kepuasan diri sesaat, karena ketidakmampuannya dalam memaknai spiritualitas. Kesanggupan berdema tanpa diminta dan bukan untuk pamer terlahir dari kualitas diri yang tidak terbebani oleh berbagai rayuan produk konsumtif, bahkan dia mampu mengendalikan diri serta bisa membedakaan mana yang lebih bermakna bagi kehidupannya dan mana yang bisa mencelakakannya.

      Kehidupannya diusahakan untuk meraih keridhoan-Nya, dan itulah yang lebih utama dibandingkan dengan yang lainnya. Sebagaimana nasehat Sahabat Ali Bin Abi Tholib ra; “Kebaikan bukanlah memiliki harta melimpah dan anak banyak. Akan tetapi, kebaikan adalah jika amalmu banyak, ilmumu luas dan engkau tidak menyombongkan diri kepada orang lain dengan ibadahmu kepada Allah swt. Jika berbuat baik, engkau segera bersyukur kepada Allah swt dan jika berbuat buruk segera memohon ampun kepada-Nya”. Prestasi beramal soleh, diantaranya dalam bentuk berderma, untuk memberikan sebagian apa yang yang telah Allah karunikan kepada kita, sebagai bentuk rasa syukur dan ketaatan kepada-Nya, sehingga mudah melakukan gerakan infaq, shodaqah, zakat, wakaf maupun hibah. Dan ditegaskan dalam Al Qur’an Surat Ali Imran : 92.  Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya.

      Kesanggupan berderma sehingga menjadi karakter dalam kehidupannya membutuhkan proses pembelajaran dan pematangan serta pengalaman langsung, bukan sekedar diskusi dan wacana yang membosankan. Ketiga tahapan proses tersebut harus terus dimaksimalkan sehingga adanya kesinambungan dalam membentuk pemahaman pentingnya karakter berderma. Kisah keteladanan Nabi Muhammad SAW beserta para Sahabatnya patut dijadikan contoh keteladanan untuk membangun kesempurnaan diri, karena dihadapan kita ada banyak tantangan dimana betapa mudahnya tayangan iklan diberbagai media dengan menghadirkan para seleberitis sebagai bintang idolanya mampu menyihir sebagian masyarakat kita dan mengalihkan perhatian pada produk yang ditawarkan, sedang layanan iklan tentang kepedulian dan mendorong untuk berderma nyaris tidak termunculkan, sehingga sangatlah wajar apa yang dibicarakan oleh anak-anak kita bahlan para orang tuanya adalah tentang produk-produk baru yang menjanjikan diskon besar-besaran untuk segera didapatkan, dan ada yang memenuhi harapan tersebut secara wajar dan rasional,bahkan ada yang dipenuhi secara tidak wajar dan bahkan melalui kekerasan untuk pemenuhan suatu produk yang ditawarkan. Ada banyak korban berjatuhan dan masih saja tidak merasakan pengeroposan jati diri, karena begitu menarik kemasannya, sehingga yang sadar menjadi kehilangan kesadaran demi pemuasan kebutuhan.

      Sudah saatnya untuk komitmen membangun karakter berderma, sebelum bencana hedonisme merusak kehidupan kita yang semakin mengarah menghalalkan segala cara, dan selamatkan anak-anak kita dan generasi kita dari sikap hidup yang tidak bermakna, meski indah kemasannya dan tetap waspada karena dibalik keindahan itu telah menyimpan jeratan yang merusak kehidupan. Gaya belanja dengan mengobral harta bergerak dari Mall ke Maal, dari berbagai tempat hiburan malam hingga prostitusi dan narkoba, sehingga tidak ada sedikitpun ruang spiritualitas untuk bersyukur dan bertafakkur. Kebanggan dengan kepemilikan barang mewah (meski dengan korupsi) sehingga tidak mampu merasakan penderitaan kaum miskin yang lemah, waktunya dihabiskan untuk berfoya-foya sehingga tidak ada kesempatan untuk berbagi, mereka semakin tenggelam dalam kesesatan nyata. Dengan memohon perlindungan pada-Nya (Al Baqarah :257; Ibrahim : 1), untuk diselamatkan dari bencana keburukan meraih kemuliaan diantaranya melalui karya amal soleh (berderma). Perhatikan penderitaan saudara-saudara kita yang begitu susah payah untuk bisa melepaskan dari jeratan kemiskinan dan tetap sabar (Al Baqarah : 155)tanpa mengorbankan kemuliaan hidup, maka kedermawanan kita akan dapat memberikan harapan kepada mereka sebelum berbagai cobaan menghanyutkan kita (Al Anfaal:28). Melalui karakter berderma akan mampu meraih kemuliaan dan kebahiagian hidup dan jika meninggalkannya semakin menghinakan dan menyusahkan kehidupan kita. Raih bahagia dengan berderma.