Sebuah pengingat sekaligus ajakan kepada para orang tua. Jika kita termasuk salah satu di antara orang yang memiliki sifat selalu memerintahkan tanpa contoh perbuatan, percayalah selamanya anak kita tak akan menjadi anak shaleh seperti yang kita idam-idamkan. Bagaimana mungkin kita mendidik anak dengan cara yang tak tepat seperti itu kemudian menginginkan anak sholeh?

Akan sulit bagi anak melakukan apa yang diperintahkan orang tua apabila tak ada contoh nyata dari orang tua. Sebaliknya, akan sangat mudah sebuah pekerjaan dilaksanakan oleh seorang anak, jika sebuah pekerjaan itu telah ada contohnya. Terutama dari orang tuanya. Contohnya jika kita ingin mengajari anak berenang, tapi kita sendiri tidak bisa berenang. Bagaimana si anak akan bisa berenang?

Nabi Muhammad SAW pernah melakukan sholat. Barulah ia mengatakan “Shollu kamaa roaytumuuni usholli” sholatlah sebagaimana engkau melihatku sholat. Kemudian Rasulullah SAW menunaikan ibadah Haji, ia mengatakan “Hudzuu ‘anniy manaasikakum” . dan seterusnya. Dalam sholat, haji, dan perbuatan lainnya Nabi selalu mencontohkan terlebih dahulu baru memerintahkan. Atau setidaknya berbarengan dengan perintah itu kita melaksanakannya.

Maka, jika kita menyuruh anak kita sholat, hendaknya kita sudah melakukannya, atau setidaknya kita bersama-sama untuk melakukan sholat dengan anak kita. Kita menyuruh anak kita untuk mengaji, setidaknya kita sudah membaca Al-Qur’an, kita menyuruh anak kita adzan, setidaknya kita ikut ke masjid, mendengarkan adzan yang dikumandangkan. Bagaimana anak akan melakukan itu semua jika orang tua tidak memberikan contoh kepada anaknya.

Pada kesempatan ini sekolah yang memiliki branding sekolah anak shaleh mempunyai program SEMINAR SMART PARENTING yang di adakan di Hall BG Junction Jalan Bubutan Surabaya pada tanggal 3 Pebruari 2018 mulai pukul 10.00 dengan seminar yang bertajuk “POLA ASUK ANAK ZAMAN NOW”

Sedangkan yang menyampaikan seminar ini tidak kalah kerennya beliau adalah pakar pemerhati anak yang sudah melanglang buana baik di dalam maupun luar negeri, beliau adalah bapak H. Sudarusman, S.T.

Sebagaimana disampaikan oleh pemateri terkait relitas paradigma belajar bagi orangtua dengan adanya case kecil contohnya “ketika pengambilan rapor PASTI yg ditanyakan orangtua ke guru kelasnya adalah ranking berapa? Masih bangga dengan perbandingan atau membandingkan, kenapa yg ditanyakan bukan masalah perilakunya & keaktifan ibadahnya?

Paradigma orangtua masih masih berkutat pada angka2, padahal setiap individu memiliki kelebihan sendiri seperti bakat, keterampilan, kecenderungan sehingga dengan semua itu, ia menjadi manusia yang syukur nikmat dan berdaya guna. Penggalian minat, bakat, keterampilan dan kecenderungan perlu diasah sedini mungkin.

Allah berfirman: “Katakanlah : tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” (QS. Al Israa’ (17) : 84).

Hamka menjelaskan, bahwa kata syaakilah yang terdapat pada ayat di atas diartikan ‘bawaan’ atau ‘bakat’. Beliau menjelaskan lebih lanjut, bahwa tiap-tiap manusia itu ada pembawaannya masing-masing yang telah ditentukan oleh Allah SWT sejak masih dalam rahim ibu. Pembawaan/bakat, Allah ciptakan bermacam-macam, sehingga yang satu tidak serupa dengan yang lain. Maka menurut ayat tersebut, manusia diperintahkan bekerja selama hidup di dunia ini, menurut bawaannya masing-masing.

Pemateri sekaligus sebagai kepala sekolah di SMA Muhammadiyah 10 itu melanjutkan bahwa atitude tidak bisa ditata dengan singkat, tapi membutuhkan proses dengan pendampingan yang intens, kalau kecerdasan dinamis bisa dipercepat, ketika anak sudah muncul sebuah keinginan pasti dia akan bisa dg cepat beliau memberikan contoh “Jika ada seorang dijanjikan akan naik haji dengan syarat apabila bisa berbahasa arab.. pasti sebentar langsung bisa

Sehingga peran orangtua harus menjadi teman yang baik bagi anak, memberikan support dengan penghargaan, membimbing anak dengan keteladanan, pujian atas prestasi yg dimiliki

Perilaku anak terbentuk karena 4 hal :
1. Berdasarkan siapa yg lebih dulu menyampaikan
2. Siapa yg lebih dipercaya
3. Siapa yg menyampaikan dengan bahasa yang menyenangkan
4. Siapa yg lebih sering menemani, terutama saat dibutuhkan anak

Semoga sebagai orangtua kita dapat memperbaiki diri dan menjadi orangtua yang teladan bagi anak anak kita